Jadi Pekerja WFH, Josie: Enggak Mikirin Desak-Desakan Naik Transportasi Umum Jakarta : Okezone Lifestyle

PENYEBARAN virus corona atau COVID-19 yang dinyatakan sebagai pandemi kian mengkhawatirkan. Di Indonesia, sejak Minggu 15 Maret 2020, Presiden Joko Widodo meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terhadap penyebaran virus corona.

Salah satu cara yang dianjurkan adalah dengan mengurangi aktivitas di luar rumah. “Saatnya kita kerja dari rumah, belajar dari rumah, ibadah di rumah,” ujar Jokowi dalam konferensi pers di Istana Bogor.

wfh

Instruksi tersebut rupanya disambut baik oleh sejumlah perusahaan di dalam negeri. Tagar #WorkFromHome dan #Dirumahaja, bahkan sempat menjadi trending topic di Twitter.

Sebagian perusahaan memang terpantau telah menerapkan kebijakan WFH ini sejak Senin 16 Maret 2020. Rencananya akan berlangsung hingga 2 minggu mendatang.

Okezone pun tertarik untuk menilik lebih dalam lagi efektivitas WFH bagi para pekerja, yang terbiasa beraktivitas di luar rumah. Josie Valentino (29), pekerja kantoran di perusahaan konsultan komunikasi, Maverick. Josie mengatakan bahwa kantornya turut menerapkan Work From Home pada Senin 16 Maret kemarin.

“Awalnya, mau percobaan dulu, yaitu WFH di hari Senin 16 Maret dan 17 Maret. Tapi karena selama masa percobaan hari pertama kemarin semua berjalan dengan lancar, jadi di-extend sampai dua minggu,” ujar Joshie saat dihubungi Okezone via sambungan telepon, Selasa (17/3/2020).

Josie menambahkan, keputusan untuk menerapkan kebijakan WFH ini memang dilakukan guna mendukung pemerintah dalam membatasi penyebaran virus corona dan penyakit COVID-19.

Di sisi lain, kantornya juga sangat concern dengan kondisi kesehatan para karyawan. Mereka tidak ingin karyawan menanggung risiko tertular dengan harus berdesak-desakan di public spaces seperti kendaraan umum.

Mempertimbangkan beberapa hal tersebut maka diputuskanlah untuk menjalankan kebijakan WFH. Sejauh ini, WFH dinilai efektif dalam menunjang pekerjaan meski para karyawan tidak dapat bertatap muka secara langsung. Semuanya berkat perkembangan teknologi yang semakin canggih.

“Setiap pagi jam 09.30 itu biasanya kantor aku ngelakuin morning huddle supaya setiap team update apa yang akan mereka lakukan untuk klien mereka di hari tersebut. Nah, karena ada kebijakan WFH, morning huddle dilakukan via video melalui aplikasi Zoom,” ungkap Josie.

“Semua orang berpartisipasi di morning huddle perdana via zoom itu. Untungnya semua tetap bijaksana meskipun mereka enggak di kantor,” timpalnya.

Sebelum ada kebijakan WFH, Josie mengatakan, dia dan timnya sudah cukup sering melakukan meeting, menggunakan video call maupun aplikasi Google hangout. Sampai sekarang belum ada kendala yang berarti.

Kendati demikian, dia tidak menampik bahwa bekerja di rumah maupun di kantor memang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

“Tapi aku pribadi pilih WFH. Kenapa? Buat orang-orang yang rumahnya jauh dari kantor, ini membantu banget. Aku biasanya habisin waktu satu jam pergi, satu jam pulang buat perjalanan. Sampai kantor udah lumayan capek, sampai rumah udah lumayan capek,” ujar Josie.

“Dengan WFH ini gue bisa melakukan lebih banyak hal karena dua jam yang biasa aku pakai buat perjalanan itu, bisa aku pake buat hal lain,” tambahnya.

Josie juga mengatakan, bekerja di rumah juga membuatnya menjadi lebih produktif. Kemungkinan untuk terditraksi cenderung lebih minim, bila dibandingkan di tempat-tempat yang ramai seperti perkantoran.

“Di kantor kan banyak orang ya. Buat orang yang enggak terlalu suka kerja di keramaian seperti gue, WFH sangat membantu gue banget. Karena gue bisa fokus dengan apa yang gue lakuin,” jelas Josie.

“Tapi memang gimanapun komunikasi itu kan lebih asik kalau interaksi tatap muka langsung. Lebih dapat feelingnya gitu. Dan potensi untuk miskomunikasi juga lebih rendah,” tandasnya.

Sumber